20 December 2007,
Waktu menunjukan jam 4 pagi, namun rasa malas masih menghantui diri. Padahal hari ini adalah lebaran haji (Iedul Adha). Yep, this was my first experience celebarate lebaran far..far away from my country (not so far actually only 1000 Km something, if I’m not mistake
).
Akhirnya telepon yang gw tunggu-tunggu datang juga, wew..6 o’clock. Thank’s yak sweetie for wake me up
. Agak kaget juga waktu dia bilang jam 6, wakss…It means dah jam 7 dunk disini…hehehe. Langsung bangun subuh dan lanjut mandi. 6:30, I was ready. Hmmm…anak kondo sebelah sepertinya belum bangun. Dan ternyata dugaan gw benar
.
…jam 7 dibawah yak.
Sambil garuk-garuk kepala gw balas deh sms Sabri. Actually, the point that make me worry was about trasportation. Because in normal time, very hard to look for cab in here.
Pukul 7:10, kita berempat, gw, Sabri, Dwi dan Koko jalan menuju tempat shalat. Tujuan seperti biasa, surau Damansara. The one and only that I know near from here. FYI, the surau about 2 Km from my condo
. Fortunately, bus beroperasi di hari raya ini, so kita tak harus menunggu taksi. Baru saja keluar kondo, ternyata dapat teman seperjalanan. Ada orang Australia yang sedang kebingungan juga mo cari tempat untuk shalat Ied (setelah cakap lebih lanjut, ternyata dia orang Somalia yang lama tinggal di Australia). Berlima kita menuju tempat shalat dengan bus.
Hal yang benar-benar berbeda di hari raya ini, tak ada suara takbir di jalan-jalan. Padahal ini negara muslim. Hmmm…benar-benar culture yang sangat berbeda. Ternyata bukan gw saja yang bertanya-tanya tentang ini, si Australia pun bertanya hal serupa
. Wew, pantas aja si Aves kapok dikirim lagi keluar. Apalagi saat-saat mo lebaran (hehehhe..akhirnya gw ngalamin juga yang lo rasain brur). Sesampai di daerah The Curve (shopping center in Damansara), kita pun turun. Dari sini, masih sekitar 200-300 meter ke tempat shalat. Benar-benar perjuangan untuk beribadah saja…fuihhh.
Namun semua itu tidak sia-sia (kalo bilang percuma, disini percuma = gratis), ada tanda-tanda kehidupan di surau. Actually, surau Damansara tak bisa dibilang surau. Sebutan masjid lebih pantas diberikan in my oppinion. Si australia pun terlihat gembira..hehehe. Thanks God..You are Mighty
.
“Allah..hu akbar..Allah..hu Akbar…Allah..hu Akbar…Laa Illaahhaillallah Wallah Hu Akbar. Allah..hu akbar..Wa Lillaah Ilham.”
ternyata jam 4 blm tidur ya…
hehehe..klo denger suara kmu waktu kaget lucu juga…:p
besok2 lebarannya di pamulang aja ya..ga usah jauh2..
bagus your story….excited to know your journey…but of course I would like to tell you that Malaysia’s culture is different between each places. At Damansara, of course, big city…it’s hard to hear the Azan..seruan Ilahi..but it’s different when you go at village (kampung in Bahasa..)you will find that it’s very calm,peace..and happening as we celebrate the Aidil Adha…you also could see people do ibadah Qurban everywhere… heheh…maybe one day we could show you this…..